Senin, 25 Oktober 2010

Beda Antara "Tanah Air" dan "Negara Yahudi"

Tidak banyak dokumentasi soal sejarah Timur Tengah yang memiliki implikasi sepanjang zaman. Seperti halnya Janji Balfour yang menjadi batu pertama berdirinya negara Israel. Janji ini masuk terus menjadi unsur penentu konflik Arab – Israel.
Dalam teksnya tegas dan dari muatan perundingan antara Inggris dan delegasi yahudi bahwa janji itu tidak memberikan - jika sudah berdiri menjadi negara - izin kepada Israel untuk menjadi negara yahudi.
Janji ini adalah penegasan tertulis yang terdiri dari 67 kata dari Lord Arthur Balfour, Menlu Inggris di pemerintah David Lloyd George kepada Chaem Weizmen, delegasi yahudi di perundingan pada 2 November 1917. Di sana Inggris mendeklarasikan dukungan berdirinya “tanah air” bagi bangsa yahudi di Palestina.
Bagian kedua dari stetemen menegaskan bahwa tidak boleh berkali zhalim terhadap hak sipil dan agama bagi selain warga yahudi yang ada di sana.
Balfour dan Lloyd menjelaskan setelah itu bahwa di tahun 1921 kepada Weizmen bahwa statemen yang sudah disampaikan berarti negara bagi Israel pada akhirnya.
Tidak ada niat berdirinya negara yahudi satu-satunya di Palestina, namun yahudi mendirikan “tanah air bangsa” disamping bangsa Palestina dan lainnya dari negara-negara tetangganya.
Penjelasan Balfour ini sebagai janji akan tanah air bangsa bukan negara yahudi. Sementara Israel hingga kini masih mengafiliasikan janji Balfour tahun 1917 dan resolusi Majlis Umum PBB soal pembagian Palestina tahun 1947 hanya melalui lisan dan bukan tertulis.
Majlis Umum PBB juga tidak mendasarkan keputusan pengakuannya internasionalnya soal hak historis yahudi di Palestina berupa pendirian negara.
Upaya Gerakan Zionis mendapatkan pengakuan seperti ini dari lembaga internasional sudah gagal.
Karena deklarasi Inggris dalam Janji Balfour tidak menegaskan secara tegas soal negara Israel, Chaem Weizmen perunding Israel dengan Inggris segera menegaskan kekecewaannya karena janji Balfour tidak ada isyarat tentang hak yahudi di Palestina seperti yang mereka minta atau isyarat hubungan sejarah mereka di tanah Palestina atau pendirian kembali tanah air di Palestina.
Weizmen sadar bahwa sangat sulit pada saat itu mendapatkan persetujuan Inggris untuk mendirikan negara yahudi. Sehingga ia cukup hanya memberi janji membantu gerakan zionis untuk mendirikan tanah air. Di awal tahun 1917, lawatan resmi internasional pertama digelar untuk menggalang dukungan. Inggris diwakili Menlunya Mark Sykes dan Gerakan Zionis diwakili oleh sejumlah elitnya terutama Weizmen yang akhirnya menjadi Presiden pertama Israel tahun 1948. Tuntutan mereka adalah mendapatkan pengakuan internasional atas hak bangsa yahudi di Palestina. Pada 18 Juli 1917, mereka mengusulkan agar Inggris menjelaskan secara tertulis mengakui prinsip pengakuan Palestina sebagai tanah air bangsa yahudi.   Pihak Inggris meminta agar dilakukan revisi draft usulan itu. Maka pada 4 Oktober 1917 dilakukan revisi draft. Ditegaskan disana, “Inggris berjanji mendeklrasikan dukungannya membentuk tanah air bangsa yahudi di Palestina.” Kemudian isyarat gagasan hak yahudi di Palestina dihapus. Di bawah tekanan dan manuver yahudi, keluarlah “draft janji” dalam bentuk format finalnya pada 2 November tahun 1917 bahwa Inggris mendukung pendirian tanah air bangsa yahudi di Palestina. Sesuai dengan ungkapan Weizmen sendiri, ia mengatakan, dirinya menyayangkan dan kecewa akan janji Balfour yang kosong dari isyarat hak yahudi di Palestina atau kaitan sejarah yahudi. Inggris sendiri menolak penegasan hak itu usai perang dunia I tahun 1919. Inggris hanya menyebutkan hubungan historis dan bukan hak historis.
Sesungguhnya dokumen-dokumen sejarah yang dijadikan dasar oleh Israel untuk melegalkan eksistensinya, yang diawali oleh janji Balfour, kosong dari isyarat dan penyinggungan soal hak yahudi di Palestina. Bahkan dokumen itu mengingkari hak memasukkan identitas dan cap yahudi kepada negara. Namun Netanyahu mempermainkan kata-kata bahwa mereka memiliki dokumen senjata yang kuat, seperti yang sudah biasa dilakukan Israel dalam kontroversi atau perundingan damai. (bn-bsyr)
Athef Ghimari
(Al-Wathan Qatar)
Sumber/infopalestina

0 komentar:

Posting Komentar