Sabtu, 18 Desember 2010

Perundingan Gagal, Proyek Perlawanan Yang Menang

Orang cerdas adalah yang mengamati perjalanan peristiwa, kemudian belajar dan mengambil pelajaran serta tidak masuk lobang yang sama dua kali, tiga kali, atau bahkan 1000 kali. Mereka yang berkali-kali masuk lobang dan terkena racun berkali-kali akan melumpuhkan daya pikirnya.
Orang Palestina mengatakan, seseorang yang sudah mencoba apa yang sudah dicoba oleh orang lain, maka akalnya sudah “rusak”, penulis menambahkan bahwa mereka juga “dungu”. Sebab ia sadar benar bahwa dirinya akan gagal namun ia ngotot untuk gagal.
Sudah menjadi hakikat dan kenyataan jika mempelajari perjalanan perundingan dengan Israel sejak tahun 1977, semua perunding Palestina sadar bahwa Israel tidak akan pernah berniat maju selangkah pun setelah perundingan Oslo. Artinya, Israel tidak akan memberikan apapun kepada Palestina setelah Oslo. Total apa yang diinginkan Israel di balik perundingan-perundingan itu adalah menjerumuskan Otoritas Palestina dalam ilusi, tetap mempertahankan situasi riil sekarang dan menggunakan badan keamanan Palestina untuk memukulu dan menghabisi perlawanan serta menjaga keamanan Israel.
Realitas dan kenyataan ini sudah sangat jelas terbukti bahwa perundingan-perundingan langsung atau tidak langsung tidak akan memberikan apapun kepada bangsa Palestina baik berupa target dan tujuan Palestina atau hak mereka. Karenanya, perundingan sudah gagal dan sia-sia dilanjutkan.
Terbuktinya realitas itu berarti membuktikan kemenangan proyek perlawanan mengusir penjajah Israel sebagai satu-satunya harapan. Sebab proyek inilah yang justru memberikan kemenangan demi kemenangan meski blokade zhalim terus berlangsung.
Lihat bagaimana peringatan lahirnya Hamas yang ke 23 yang dihadiri lautan warga Palestina sebagai bukti kepercayaan mereka terhadap perlawanan.
Dengan bendera hijaunya mereka menyampaikan kegigihan mereka akan perlawanan dan konsisten mereka terhadap prinsip-prinsip dan hak Palestina.
Pemandangan ini saja sudah mampu menggentarkan Israel melebihi kekalahan-kekalahan yang sudah pernah mereka rasakan.
Pemandangan ini akan memberikan pengaruh bagi masa depan konflik yang akan berlanjut hingga bumi Palestina seluruhnya akan dibebaskan. Apakah Israel mampu menghadapi satu bangsa yang berkukuh membebaskan negeri dan tanah airnya dan meyakini bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan menuju pembebasan?
Bangsa yang beberapa saat lalu keluar dari rumah mereka mendeklarasikan dengan jelas tentang hakikat di atas dan menggambarkan proses kezhaliman dunia terhadap mereka dengan cara dimiskinkan dan diblokade, bangsa yang menghadapi kekejaman Israel yang menggunakan senjata terlarang yang menghancurkan mereka dan rumah mereka. Namun bangsa itu tidak menyerah dan lemah, bahkan semakin kuat. Mereka keluar untuk menegaskan komitmen dengan akan proyek perlawanan.
Dalam peringatan 23 Tahun Lahirnya Hamas, Ismael Haniyah – sosok yang dikenal sebagai simbol keberanian, kekuatan dan harga diri, keimanan - berdiri tegak mengacungkan telunjuknya seakan menantang Israel dan kekuatan thagut dunia menegaskan konsistensinya terhadap perlawanan untuk membebaskan Palestina seluruhnya, dari Nakurah hingga Rafah.
Kemudian ia mengumumkan penolakannya untuk mengakui Israel. Jika digelar pemilu jurdil di Palestina maka faksi-faksi perlawanan, terutama Hamas akan menang mutlak jauh lebih tinggi dibanding kemenangan sebelumnya, bahkan meski di Tepi Barat.
Sudah jelas bahwa kelompok perlawanan sudah membaca semua data realitas dengan benar dan mereka tidak hidup dalam khayalan.
Jika membaca realitas dengan benar maka akan menemukan bahwa Palestina sudah bosan dengan kesia-siakan perundingan dan semakin sadar akan perjuangan mereka. Pengalaman manusia adalah kekayaan paling penting dan senjata paling ampuh melebihi senjata yang diberikan Amerika kepada Israel. Pengalaman itu mengajarkan bahwa jalan satu-satunya membebaskan Palestina adalah dengan perlawanan.
Jika membaca dengan benar realitas maka akan menyimpulkan bahwa Israel melemah meski dengan senjata dan kesombongannya.
Bangsa Palestina sadar bahwa jika blokade berlanjut, maka dunia akan membenci Israel dan thagut yang turut serta dalam memblokade.
Sementara yang memiliki perundingan sebagai jalan, sesungguhnya mereka tidak membaca realtas dengan benar. Padahal realitas menegaskan bahwa pilihan perundingan damai tidak lagi riil. Kesombongan akan kekuatan yang dilakukan Israel dan Obama telah membuat mereka tidak memberikan hak bangsa Palestina. bangsa Arab sendiri tidak berdaya memenej perundingan.
Karenanya, Ismael Haniyya berpidato tentang proyek perlawanan dengan penuh percaya diri kepada Allah dan berani di depan lebih dari 1 juta warganya. Adalah pemimpin di dunia ini yang bisa berbicara di depan rakyatnya dengan sebanyak ini?? Adakah pemimpin yang memiliki popularitas sekelas Haniyah??
TV Al-Aqsha menyiarkan peringatan 23 tahun Hamas dan menyiarkan perasaan bangsa Palestina. TV ini mewawancarai seorang nenek Palestina yang mengatakan dengan sederhana dan spontanitas serta jujur kepada pahlawan-pahlawan Hamas: “(Aku mohon kepada-Mu) Ya Allah, semoga kalian menjadi pemimpin bagi negara-negara Islam …” maka  spontan penulis mengatakan: Semoga Allah menerima doamu wahai Hajjah, dan pada hari itu semua yahudi akan terbirit-birit lari dari Palestina tanpa peperangan. (bn-bsyr)
Harian Asy-Syarq Qatar
Prof. Dr. Sulaiman Shalih

0 komentar:

Posting Komentar